• Wrecked •

[Author's POV]

Jam 00.30. Masih di bar, tepatnya di meja nomor 5 langganan geng pecinta bir Corona ini.

Mereka masih asik mengobrol, kecuali Rania yang sudah tidur karena mabuk. Obrolan mereka beragam banget, mulai dari obrolan serius tentang pekerjaan sampai celetukan-celetukan nggak jelas tapi tetep bikin mereka ketawa.

Tapi ada satu orang yang nggak bisa fokus di obrolan mereka hari ini: Uyon.

Walaupun tetap ikut ngobrol dan ketawa, pikiran Uyon nggak ada di situ. Dia terus-terusan mikirin Caca yang sampai saat ini belum ngabarin sudah pulang atau belum. Uyon bener-bener khawatir, karena dia tau Caca nggak biasanya main sampai jam segini. Orang biasanya kalo lagi chat-an jam 11 Uyon udah ditinggal tidur, gimana mau main sampai malam.

“Ada apa, Yon? Kok kayaknya lo ada pikiran gitu sih?” Leo yang tadi merhatiin Uyon rada gelisah akhirnya nanya.

“Hah? Oh... Ini Le, Caca belom ngabarin udah pulang apa belom, padahal udah jam segini” jawab Uyon, masih sambil cek HP-nya semenit sekali, menunggu kabar dari Caca.

“Yaelah Yon, selow aja sih ah! Udah gede anaknya biarin pulang mal—” ujar Brian sebelum akhirnya mulutnya disumpel tisu sama Leo.

“Diem Bri, bukan waktunya bercanda” Leo memarahi Brian. Sebenernya rada sia-sia sih dia negor Brian, anaknya udah lumayan mabuk soalnya.

Jam 00.50. Uyon chat Caca lagi untuk kesekian kalinya, memastikan gadisnya itu sudah pulang.

Alih-alih ada balasan, chat yang dia kirim justru nggak delivered. Hanya ada tanda centang satu.

“Le, masa tiba-tiba chat gue ke dia nggak delivered” Uyon memperlihatkan layar HP-nya ke Leo.

“Waduh, coba telepon Yon” saran Leo.

Uyon mencoba telepon Caca berkali-kali, tapi tidak diangkat. Uyon semakin lemas, raut mukanya menandakan dia semakin khawatir Caca kenapa-napa.

“Kalo engga dicek aja ke apartemennya, gimana Yon?” kata Leo yang jadi khawatir juga ngeliat muka Uyon.

“Iya Le, kayaknya gue samperin sekarang deh” balas Uyon sambil merapi-rapikan barangnya dan mengeluarkan uang dari dompet. “Ini ntar buat bayar ya, kalo kurang kasih tau aja ntar gue transfer. Sorry gue duluan ya, Le. Titip Rania sama Brian”

“Oke Yon, hati-hati. Kalo ada apa-apa kabarin ya” jawab Leo sambil melambaikan tangan ke temannya yang sudah bergegas keluar dari bar.

—-‐———————-

Uyon memacu kencang Mazda CX-5 kepunyaannya melewati jalanan kosong Jakarta. Keadaan mobil itu hening, Uyon tidak memutar musik dan nyanyi kencang-kencang seperti biasa. Kali ini hanya doa yang dia ucapkan kencang-kencang sepanjang perjalanan ke apartemen Caca.

'Ya Tuhan, Caca nggak kenapa-napa kan ya? Dia baik-baik aja kan?'

Sesampainya di apartemen Caca, Uyon parkir asal mobilnya dan langsung bergegas turun.

“Eh, mas. Selamat malam, kok tumben datengnya jam segini?” sapa Pak Haryo, salah satu satpam apartemen yang sudah kenal dengan Uyon karena sering ketemu pas nganterin Caca pulang.

“Malam pak, Caca udah pulang belom ya?” Uyon langsung tanya dengan nada panik.

“Loh? Pulangnya nggak sama mas tadi?”

“Engga pak, dia katanya mau ketemu temen trus pulang sama temennya itu, tapi sampe sekarang belom ngabarin saya lagi udah pulang atau belom”

“Ooh gitu. Saya kebetulan belom liat Neng Caca sih, mas. Saya baru masuk shift jam 12 tadi soalnya”

Uyon makin panik. Pikirannya makin kemana-mana, makin takut beneran ada hal buruk yang terjadi sama Caca. Bahkan udah mau langsung lapor polisi aja kalo dia nggak bisa dapat kabar dari Caca.

“Atau mau saya bantuin buka aksesnya, mas? Tapi saya cuma bisa bantu bukain akses aja, kalo ke unit-nya Neng Caca nggak bisa” Pak Haryo menawarkan bantuan.

“Boleh pak?”

“Boleh kok, kan saya udah kenal Mas Uyon juga” Pak Haryo kemudian membuka akses ke lift agar Uyon bisa masuk.

“Coba diketok dulu aja unit-nya, kalo ada apa-apa langsung bilang saya aja, mas. Nanti saya bantu”

“Oke pak, makasih banget ya pak. Saya ke atas dulu ya” ujar Uyon berterima kasih ke Pak Haryo sambil naik ke lift.

Sesampainya di lantai tempat unit Caca berada, Uyon melangkah cepat ke unit Caca yang letaknya ada di ujung lorong. Tanpa basa-basi dia tekan bel unit tersebut.

“Ca? Kamu di dalem kan? Ini aku, Uyon” panggil Uyon sambil mengetuk-ngetuk pintu dengan panik.

Tidak ada jawaban.

“Ca? Ca please... Please kamu di dalem kan...?” panggilnya lagi, semakin lemas karena belum mendapat jawaban dari gadisnya itu. Dia sudah berpikir mau mendobrak pintu itu aja kalo masih belom ada jawaban.

Klik

Kunci pintu unit tersebut akhirnya terbuka. Uyon lega banget mendengar suara kecil itu, tandanya Caca pulang dengan selamat dan ada di apartemennya.

Caca membuka pintu dan menunjukkan dirinya ke Uyon. Dirinya yang saat ini hancur, rambutnya berantakan, mukanya merah, masih memakai baju yang tadi pagi dia pakai ke kantor dan make up-nya belom dihapus, luntur karena air matanya sendiri sehingga menutupi muka cantiknya.

“Heee? Uyooooon? Kamu ngapain di siniiiii heeehehehee” kata Caca yang kaget melihat Uyon di apartemennya.

Bau alkohol.

Uyon nggak jadi lega.

Uyon menganga, kaget sejadi-jadinya melihat keadaan Caca. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan melihat Caca yang seperti ini.

“Siniiiiii yoooonnnn jangan di pintuuuu heeeehehehe” Caca yang mabuk berat menarik tangan Uyon untuk masuk ke apartemennya, alhasil dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.

“Aaawww eeehehehehe gapapa kok Caca gapapa nggak sakit heheeeeheheeeheh” katanya lagi masih ketawa tapi meringis kesakitan juga. Uyon membantunya berdiri lalu memapah Caca ke arah sofa untuk duduk, masih dalam diam.

Uyon melihat keadaan sekitarnya. Berantakan banget, kaleng bir, remahan cemilan, tisu bekas, semuanya berserakan nggak karuan. Padahal biasanya apartemen Caca ini bersih dan rapi banget, karena Caca nggak suka kalo barang-barangnya nggak ditaruh di tempat yang seharusnya.

“Ini.... Kamu semua yang minum, Ca..?” tanya Uyon sambil menghitung kaleng-kaleng kosong bir yang berserakan. Total ada 5 kaleng.

“Iyaaaaa dooong, Caca hebat kan Yon bisa minum sebanyak ini haaahahahahh” jawab Caca sambil menenggak kaleng keenam yang ada di tangannya.

Uyon buru-buru merebut kaleng tersebut, lalu menjauhkannya dari jangkauan Caca.

“Aaah Uyon kenapa diambiiiiillll, itu masih ada dikit lagi sayang kalo nggak diminuuuuuummmm” rengek Caca.

“Nggak ada. Udahan minumnya” jawab Uyon tegas. Caca cuma bisa manyun, tetep sambil ketawa-ketawa nggak jelas khas orang mabuk.

“Sekarang kasih tau aku, kamu tadi kemana? Sama siapa? Kenapa pulangnya malah minum-minum gini?” tanya Uyon dengan raut muka seriusnya yang kalo kata Caca 'udah kayak mau bunuh anak orang'.

“Gamau ngasih tau...... Muka kamu serem......” Caca malah gamau jawab dan nutup mukanya pakai bantal.

Uyon menunduk sebentar, berusaha menahan emosinya. Lalu dia menegakkan kepalanya kembali dan tersenyum ke arah Caca.

“Nih, udah nggak galak lagi. Ayo sekarang cerita”

“Hehe gitu donggg.

Caca tadi cuma makan malam aja kok, sama Mingyu heeehehehe”

“Mingyu.... Itu si sahabat kamu kan?”

“Sahabat ya....” raut muka Caca tiba-tiba berubah menjadi sedih dan dia mulai menangis.

Uyon yang kaget Caca tiba-tiba menangis langsung memeluk lalu mengelus-elus rambut dan punggung Caca, mencoba membuatnya tenang. Tapi Caca malah makin menangis.

“Mingyu-nya pergi.... Caca jahat... Mingyu-nya ninggalin Caca...” Caca mengucapkan kata-kata itu berulang kali sambil menangis terisak-isak.

Uyon mengeratkan pelukannya, dia bawa kepala Caca tenggelam di dadanya, tidak peduli bajunya akan basah karena air mata Caca. Matanya ikut berkaca-kaca mendengar tangisan sedih Caca. Dia memang paling nggak kuat melihat perempuan menangis, sudah terlalu sering dia lihat mama dan kakak perempuannya menangis karena kelakuan papa dulu, rasanya berat banget kalau harus melihat gadis kesayangannya menangis juga.

“Cep cep, nggak kok dia pasti nggak ninggalin kamu, kalau pun dia pergi pasti balik lagi. Udah ya nangisnya?” ucap Uyon masih sambil mengelus lembut rambut Caca. Padahal dia gatau masalahnya apa, yang penting dia usaha dulu aja supaya Caca bisa tenang dan berhenti nangis.

Tapi kalau dari ucapan Caca, Uyon menduga ini ada sangkut pautnya juga dengan dirinya dan perjanjian dengan Caca. Mungkin tadi Caca menceritakan tentang dirinya ke Mingyu, dan reaksi yang Caca dapat mungkin tidak seperti yang dia harapkan. Caca yang ingin menjaga hati Mingyu, ingin menjaga persahabatan mereka dengan kehadiran Uyon, malah justru harus merasakan goyahnya persahabatan itu. Justru harus kehilangan sahabat terdekatnya. Walau tidak untuk selamanya, hal ini pasti berat banget buat Caca dan dia tidak siap untuk itu.

Now he's feeling like a jerk. A jerk who make the person who his girl loves the most go away from her. But on the other side, his egoistic side is being glad. He won this battle. The battle which the grand prize is a girl named Caca.

However, being a softboi he is, he choose not to be glad. Because his girl is devastated. And he can't stand this. He's feeling guilty. He's feeling sorry for her.

Sudah hampir setengah jam mereka berada di posisi yang sama. Uyon masih memeluk Caca, dan Caca masih menangis di dalam dekapan Uyon. Namun tangisan Caca sudah mereda. Uyon membuka sedikit dekapannya untuk mengecek keadaan Caca. Ternyata Caca sudah tertidur.

“Oalah, udah bobo ternyata. Pelukanku enak ya Ca, sampe ketiduran gitu, hehe” kata Uyon bercanda yang tentunya nggak digubris sama Caca yang udah tertidur pulas.

Uyon lalu menggendong Caca ke tempat tidurnya. Dia mengambil kapas dan micellar water dari meja rias Caca, lalu perlahan mencoba membersihkan make up yang masih menempel di muka Caca. Untung dia pernah ngeliat gimana Mbak Ugi bersihin make up kalo abis kondangan, jadi sedikit tau lah caranya gimana. Kalo gantiin baju... Ehm... Ya nggak mungkin ya, walaupun Uyon gerah banget sih lihat bajunya Caca pasti udah kotor banget, tapi ya mau gimana lagi. Jadi Uyon hanya bisa menyelimuti Caca setelah selesai membersihkan make up-nya, mendaratkan kecupan lembut di kening Caca, lalu membiarkannya tidur dengan nyenyak.

“Sleep tight, sayang. Jangan lanjut nangis dalam mimpi ya” ujar Uyon sambil tersenyum, lalu keluar dari kamar tidur Caca dan duduk di sofa.

Malam ini Uyon memutuskan untuk nginep di sini aja. Jaga-jaga kalau nanti pas bangun Caca muntah-muntah atau gimana. Dia juga udah rencana mau bikinin sarapan yang hangat buat Caca, supaya hangover-nya cepat hilang.

Dia langsung chat Mbak Ugi untuk bilang dia nggak pulang malam ini.

U: Mbak, udah tidur? U: Gue ga pulang ya mbak U: Gue nginep di tempat Caca U: Tapi lo gausah mikir aneh2, ini dia lg sakit perlu ada yg nemenin U: Trus gausah bilang mama ya, kalo ditanya bilang aja gue di tempat Leo U: Thanks sis, met bobo

Nggak ada balasan dari Mbak Ugi. Berarti dia udah tidur. Okay then, yang penting Uyon udah izin.

Akhirnya Uyon bisa sedikit bernapas lega setelah dari tadi rasanya nggak tenang terus. Setelah beres-beresin sampah yang berserakan bekas Caca minum-minum tadi, dia sekarang berbaring di sofa dan bersiap untuk tidur juga. Capek banget rasanya hari ini.

'Besok cerita tentang semua yang terjadi kemarin ya, Ca'

'Supaya aku bisa tau juga buat nanti ke depannya'

'Should I continue this or not...'